Jikalau Mau Engkau Dapat Mentahirkan Saya

0
266

Oleh: Rm. Ambros Ladjar, Pr

Hari Minggu Pekan VI Masa Biasa, 11 Februari 2024*. Bacaan. Imamat 13: 1-2, 45-46 dan 1Kor 10: 31 – 11: 1 dan Injil  Mk 1: 40-45.

Hari Orang Sakit ke-32

Kusta atau Lepra adalah suatu penyakit infeksi kronis yang dapat disembuhkan. Biasanya menyebabkan pucat terutama pada kulit dan kerusakan saraf. Kusta bukan penyakit turunan tetapi disebabkan oleh infeksi dari bakteri Mycobacterium leprae. Kondisi ini sangat berpengaruh pada kulit, mata, hidung dan saraf perifer. Akibatnya terjadi perubahan rupa pada manusia sehingga tampak sangat menakutkan.

Tak heran ketika kita membaca kitab imamat tadi. Orang yang diserang penyakit kusta itu harus diisolir tinggal terasing di luar permukiman penduduk. Pakaian mereka compang camping dengan rambut yang terurai sebagai identitas khusus karena mereka telah dianggap najis. Ketika sembuh mereka harus dibawa kepada imam Harun atau salah seorang anak imam untuk membuktikan bahwa dia pantas atau tidak. Injil juga berkisah tentang seorang kusta yang berani mendatangi Yesus.

Tanpa enggan dia secara spontan meminta bantuan Yesus. “Jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan saya!”. Luar biasa beraninya dia membuat tawar menawar dengan Yesus. Tak peduli apa orang tegur atau tidak, asal bagi dia bisa sembuh. Yesus dengan penuh belas kasihan katakan: AKU mau, jadilah engkau tahir. Seketika itu juga penyakitnya lenyap. Yesus pesan kepadanya agar tak pelu orang lain tahu kesembuhannya. Tapi harus pergi lapor diri pada Imam dan mempersembahkan syukur atas pentahiran itu. Sebab hal itu sesuai dengan tuntutan hukum Musa.

Ternyata setelah sembuh orang itu tak peduli akan pesan Yesus lagi. Dia malah menceritakan kesembuhan itu ke mana-mana. Sebab apapun yang mendatangkan rasa sukacita dalam hidup sudah pasti tak didiamkan begtu saja. Akibatnya Yesus dengan sembunyi sembunyi masuk keluar kota. DIA tak mau Diri-Nya dikenal sebagai Penyelamat ajaib. Sebab Yesus hanya melakukan misi penyelamatan Allah Bapa-Nya. Biarpun demikian orang Yahudi tetap menutup mata hatinya. Mereka gagal mengenal identitas Diri Yesus sebagai Mesias Anak Allah.

Fakta bahwa setelah sukses, orang mudah melupakan sederet nama yang berperan di balik layar. Apakah mereka itu sekedar motivator atau penyangga hidup, yang jelas bahwa mereka itu sudah pernah berjasa. Terhadap mereka pantas apabila kita mengucapkan terima kasih. Walaupun cuma berbekal tekad, perlu dilihat secara seimbang dalam kisah hidup kita. Kita tak punya apa-apa, tapi Tuhan bermurah hati lewat mereka selaku media.

Pantaslah bila pada Hari Orang Sakit se Dunia ke 32 ini kita berlaku rendah hati. Rasul Paulus mengajak kita agar menjadi duta Kebaikan Yesus seperti dirinya sendiri. Kita belajar dari jejak si kusta yang datang mencari Yesus dengan motivasi luhur agar bisa melanjutkan karya belas kasih itu. Sebab penyembuhan justru terjadi lewat Relasi yang terbuka dengan Yesus. Tanpa DIA, kita akan tetap merana dan terus bergumul dengan derita yang tiada akhir. Apakah kita sendiri telah memiliki rasa syukur ataukah masih selalu menggerutu dan meminta?

*Salam Seroja, Sehat Rohani dan Jasmani* di Hari Minggu buat semuanya. Jikalau ADA, Bersyukurlah. Jika TIDAK ADA, BerDOALAH. Jikalau BELUM ada, BerUSAHALAH. Jikalau masih KURANG Ber- SABARLAH. Jika LEBIH maka BerBAGI LAH. Jika CUKUP, berSUKACITALAH. Tuhan memberkati segala aktivitas hidup keluarga anda dengan kesehatan, keberuntungan, sukses dan sukacita yang melingkupi hidupmu… Amin🙏🙏🙏🌹🌹✝️🪷🪷🤝🤝🎁🛍️💰🍇🍇🇮🇩🇮🇩

Pastor Paroki Katedral Kupang

Komentar ANDA?