Mari Deteksi Penyakit Sifilis

0
2656

NTTsatu.com – Sifilis merupakan salah satu jenis infeksi penyakit menular seksual akibat kehadiran bakteri yang disebut Treponemapallidum. Sifilis dapat dideteksi dari adanya luka kecil tanpa rasa sakit di organ kelamin, anus atau bahkan di dalam rongga mulut. Luka kecil ini disebut sebagai chancre dan seringkali tidak terlihat, sehingga sifilis pun terjadi selama bertahun-tahun tanpa disadari. Bila tidak segera diobati, sifilis dapat mengakibatkan kerusakan pada organ-organ tubuh seperti jantung dan otak.

Penularan sifilis terjadi ketika ada interaksi seksual, baik seks biasa maupun seks oral. Sifilis tidak dapat menulari orang lain melalui penggunaan barang-barang bersama atau pertukaran air liur.

Berikut ini beberapa tahapan infeksi sifilis, yaitu:

  1. Sifilis primer

Sifilis primer, terjadi sesaat setelah infeksi bakteri. Diawali dengan luka chancre yang dapat muncul pada kelamin atau di dalam mulut, -tegantung pada di mana pertama kali bakteri memasuki tubuh. Biasanya, chancre akan muncul sekitar tiga minggu setelah infeksi terjadi dan akan tetap ada hingga dua sampai enam minggu kemudian.

 2. Sifilis sekunder

Sifilis sekunder merupakan tahapan kedua dari penyakit ini. Penderita sifilis mungkin mulai mengalami ruam di kulit dan rasa sakit di tenggorokan.Ruamini tidak terasa gatal dan kebanyakan akan muncul di area telapak tangan dan telapak kaki. Biasanya, ruam ini tidak disadari kemunculannya. Selain ruam, penderita akan merasakan beberapa gejala ini, sakit kepala, pembengkakan kelenjar getah bening, rasa lelah,demam, penyusutan bobot tubuh, kerontokan rambut serta rasa ngilu pada persendian. Gejala-gejala ini dapat hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan, namun sebaiknya pengobatan tetap dilakukan untuk menghentikan infeksi.

  1. Sifilis laten

Fase ketiga sifilis adalah sifilis laten atau fase tersembunyi. Biasanya tidak menimbulkan gejala apapun, padahal Anda dalam kondisi aktif menderita sifilis. Pada fase ketiga ini, gejala fase kedua dapat muncul kembali atau penderita akan berada pada fase non aktif ini selama bertahun-tahun sebelum berlanjut ke fase terakhir.

  1. Sifilis tertiary

Fase terakhir dari sifilis adalah fase tertiary yang pasti dialami oleh orang yang tidak menjalani pengobatan apapun untuk kondisinya. Kondisi sifilis yang paling serius ini dapat menyebabkan kebutaan, hilangnya indera pendengaran, penyakit mental, hilang ingatan, rusaknya jaringan lunak dan tulang. Atau menderita penyakit saraf seperti stroke atau meningitis infeksi neuro sifilis atau infeksi saraf tulang belakang atau otak, penyakit jantung, bahkan kematian.

Jika terdapat gejala seperti gejala sifilis, segera lakukan pemeriksaan ke dokter agar tidak terjadi komplikasi serius.

Pengobatan bagi sifilis tahap pertama dan kedua memerlukan suntikan penicillin yang merupakan sejenis antibiotik. Penicillin biasanya efektif bekerja menyembuhkan sifilis, kecuali pada mereka yang alergi. Penderita alergi penicillin biasanya akan diobati dengan antibiotik lain seperti tetracycline. Penderita neuro sifilis biasanya memerlukan rawat inap di rumah sakit untuk menerima infus berisikan penicillin. Sementara itu, sifilis tertiary merupakan jenis sifilis yang sudah sulit disembuhkan meski bakteri dapat dibunuh. Rasa sakit dan tidak nyamanlah yang akan menjadi fokus pengobatan.

Bagi para penderita sifilis yang masih dalam masa pengobatan, dilarang keras melakukan kontak seksual hingga benar-benar dinyatakan sembuh. Pasangan intim Anda juga harus melalui pemeriksaan untuk memastikan tidak terjadi penularan sifilis.

Untuk mencegah penularan sifilis, hindari berganti pasangan seksual. Lakukan juga pemeriksaan rutin kesehatan seksual untuk menghindari dan memungkinkan deteksi dini penyakit menular seksual. Hindari penggunaan jarum suntik bebas dan kebiasaan meminum minuman keras yang dapat mengaburkan keputusan hubungan seks Anda.

Jenis komplikasi sifilis yang paling berbahaya adalah saat sifilis diturunkan pada bayi yang ada dalam kandungan oleh ibu hamil yang terinfeksi. Dapat terjadi keguguran, bayi yang lahir dalam kondisi meninggal hingga kelahiran prematur. Bayi yang menderita sifilis bawaan dapat mengalami kematian, cacat, penundaan dalam pertumbuhan, kejang, demam, ruam, pembengkakan limpa atau liver, anemia, penyakit kuning hingga luka yang menular. Dalam jangka panjang, dapat terjadi pula kerusakan organ-organ penting pada bayi jika sifilis bawaan tidak segera diobati.

Para penderita sifilis juga memiliki risiko lebih besar untuk menderita HIV karena adanya luka terbuka yang membuat virus HIV lebih mudah memasuki tubuh.
Selalu lakukan tes sifilis karena kondisi penyakit yang cenderung sulit dideteksi tanpa pemeriksaan. Segera lakukan tes jika terjadi hubungan intim tanpa pelindung dengan seseorang yang mungkin menderita sifilis, jika Anda sedang hamil, seorang pekerja seks komersial, berada dalam penjara, berpasangan dengan seseorang yang sebelumnya pernah berhubungan seks dengan orang lain atau melakukan hubungan intim sejenis.

Jika hasilnya positif, segera lakukan perawatan dan pengobatan. Informasikan juga kondisi sifilis Anda pada partner seksual agar mereka dapat pula melakukan pemeriksaan dan mencegah kemungkinan terjadinya penularan virus HIV. (sumber: merdeka.com)

Komentar ANDA?