Melki Laka Lena: BLK Rp 1 Miliar, Modal Membangun Perguruan Tinggi Lembata

0
1899

NTTSATU.COM — JAKARTA — “Untuk dapat membangun Perguruan Tinggi Lembata dibutuhkan modal. Karena itu salah satu modal yang bisa diperoleh Yayasan adalah melalui Balai Latihan Kerja”, demikian pernyataan Melki Laka Lena saat menerima pengurus Yayasan Koker Niko Beeker pada hari Kamis 14 April 2022 di ruang kerjanya lt 11 gedung DPR RI.

Terhadap BLK, Laka Lena yang juga Ketua Golkar NTT menerangkan bahwa melalui program ini, banyak orang Lembata juga bisa dididik, dilatih, dan diarahkan kepada karya kreatif yang bisa saja dalam bidang perikanan, pertanian, atau bahkan dalam bidang teknologi informasi.

Menyambut tawaran yang tidak disangka-sangka itu, Nikolaus Hukulima, Sekjen Yayasan Koker langsung mengatakan bahwa Yayasan Koker akan lebih memilih Teknologi Informasi. Menurut pria asal Watuwawer yang bekerja di bidang informatika, pengembangan BLK ini akan sekaligus menjadi salah satu prodi yang akan didirikan. Selain itu, IT menjadi seperti pengikat hampir dari 5 prodi lainnya. Karena itu tawaran itu akan segera ditindklanjuti.

Bila pilihan BLK dengan fokus pada pelatihan TIK, maka dana total yang diperkirakan sekitar Rp 1 Miliar yang akan dialokasikan untuk Gedung (Rp 500 juta), peralatan komputer (Rp 300 juta) dan biaya kursus gratis selama dua tahun sebesar Rp 200 juta. Selanjutnya, fasilitas yang ada bisa dijadikan modal usaha dengan menawarkan aneka pelatihan bagi praktisi IT di tiap desa agar bisa mengembangkan desanya dengan standar teknologi informasi yang kuat dan handal.

Pusat Studi

Arahan tentang BLK menurut Robert Bala, sangat strategis dan sesuai dengan rencana Koker. Bagi Bala yang juga penulis buku di Gramedia Pustaka Utama dan penulis Opini di Kompas, sejalan dengan rancangan yang dilakukan oleh tim. Menurut Bala, dalam pertemuan Minggu 10 April, pengurus Yayasan telah menetapkan bahwa pada tahun 2022 ini akan segera difungsikan Pusat Studi sebagai jalan untuk menyiapkan Perguruan Tinggi.

Pusat Studi, demikian Bala, sesuai penjelasan Dr Hipolitus Kewuel, M.Hum, dosen Universitas Brawijaya akan melakukan studi dan penelitian yang bermanfaat agar pembangunan pemerinta didasarkan pada kajian ilmiah terpercaya. Hal senada ditekankan Dr Wilem Ola Rongan M.Sc. Menurut Ketua STKIP Widya Yuana Madiun, kajian tentang budaya dapat menjadi langkah awal.

Masih dalam kaitan dengan hal yang sama, Paulus Doni Ruing mngatakan bahwa kehadiran BLK akan sangat mendukung pusat studi. Menurut pria yang biasa dipanggil juga PDR, pelatihan Teknologi informasi Komputer bisa menjadi pendukung dari pusat studi. Menurutnya, para pemuda yang dilatih di BLK ini bisa berasal dari desa-desa dan selanjutnya dengan keterampilan yang ada, mereka dapat menjadi rekanan dalam mengadakan penelitian terahadap aneka masalah yang digagas dalam pusat studi dimaksud.

Proses awal seperti ini menurut pria asal Lamatuka ini menjadi langkah awal menghasilkan manusia unggul. Baginya, manusia unggul Lembata yang akan dihasilkan melalui perguruan tinggi diharapkan menjadi modal besar agar dari mereka lahir pribadi yang bisa menjadi tuan di pulaunya sendiri. Hal ini menurutnya menjadi sebuah keprihatinan karena bila mereka tidak disiapkan, cepat atau lambat orang Lembata akan menjadi asing di pulanya sendiri.

Karya dan Melayani

Pada pertemuan selama 2 jam, Robert Bala sebagai Ketua Yayasan mengawali dengan menggambarkan proses yang telah dilewati sejak pertengahan tahun 2021. Menurut penulis Kompas itu, sejak awal, semua akademisi asal Lembata diinventarisir dan dikontak untuk bisa memberikan kontribusi terhadap proses pendirian Perguruan Tinggi. Meski tidak semua memiliki komitmen, tetapi bagi Bala, beberapa orang yang bersedia sungguh merupakan orang-orang yang berkomitmen dan bekerja tanpa pamrih hanya agar 2000 taman SMA / SMK di Lembata dapat melanjutkan pendidikan pada prodi yang disiapkan.

Sementara itu menyinggung proses pendirian, Bala yang juga penulis buku di Gramedia, studi kelayakan telah dilaksanakan dan telah mengerucut pada 6 prodi sebagai syarat sebuah institut yaitu: Teknologi Informasi, Pendidikan Kewirausahaan, Pendidikan MIPA, Pengolahan Hasil Pertanian, Pengolahan Hasil Ikan, dan Pariwisata.

Terhadap pemaparan itu, pria kelahiran Kupang 10 Desember 1976 itu sangat mendukung. Ia optimis bahwa melalui kehadiran perguruan tinggi, banyak generasi muda Lembata dapat dididik menjadi tenga profesional dan dapat menjadi pemimpin masa depan. Selanjutnya menurut Laka Lena, dari para profesional itu diharapkan terlahir pemimpin yang melayani dan berkorban.

Tentang pemimpin, wakil ketua Komisi IX mengatakan bahwa sebanarnya pemimpin yang diharapkan untuk masa depan adalah pemimpin yang melayani hal mana ditunjukkan dalam semgat membasuh kaki seperti yang dilakukan Yesus pada Kamis Putih. Di situ semua orang (termasuk politisi) harus keluar dari egoisme sektoral dan berusaha membantu satu sama lain dengan saling membasuh kaki.

Tidak kurang. Pelayanan itu perlu ditambahkan dengan pengorbanan Jumat Agung, hal mana dirayakan setelah Kamis Putih. Bila semua pemimpin mengambil dua keteladanan ini maka para pemimpin yang lahir di Lembata dan NTT baginya akan menjadi pembawa kegembiraan dan kebangkitan untuk NTT ke depannya. Demikian Laka Lena mengakhiri dialog dengan Yayasan Koker karena pada sore harinya masih mengikuti misa Kamis Putih di Gereja.

Namun sebelum berpisah, Dr Damianus Dai Koban, M.Pd, wakil Yayasan Koker mengingatkan Laka Lena agar bila hadir di Lembata pada akhir April atau awal Mei, jangan lupa mampir ke SMA SKO SMARD yang merupakan SKO swasta satu-satunya di Lembata. Selanjutnya Dami menitipkan agar Partai Golkar Lembata menjadi pioneer dalam mendukung kehadiran perguruan Tinggi di Lembata.

Terhadap usulan itu, Laka Lena mengatakan bahwa ini karya yang baik dan partai Golongan Karya di Lembata dan terutama fraksi Golkar Lembata harus berada di baliknya. (hms)

Komentar ANDA?