Refleksi Perjalanan Kosmas Lawa Bagho, Penggerak Koperasi.

0
732

NTTSATU.COM — KUPANG — Kalau dengar ada “KLB” Kongres Luar Biasa di partai maka orang selalu tanya: ‘ada apa?’Ya pasti ada pro kontra. Ada pembaharuan yang mau dilakukan. Yang lama dan mapan dibiarkan dan mau perubahan besar.

Saya lalu tiba-tiba kepikiran: Apakah ada sesuatu yang luar biasa dari KLB alias Kosmas Lawa Bagho?

Air Mengalir

Saya terkejut, dalam pembicaraan hampir sejam, yang keluar dari mulutnya hanyalah ‘luar biasa’. Kopdit luar biasa, BK3D luar biasa, Serviam Bakti Mandiri Luar Biasa, Ledalero Luar biasa, dan seterusnya. Semuanya dengan keterangan yang sama.

Lalu apakah itu yang membuatnya menjadi luar biasa? Hmm, itulah yang buat saya penasaran. Saya pun akhirnya menemukan jawaban. Yang buat luar biasa bukan karena peristiwanya yang dari sendirinya luar biasa tetapi orang yang melihat hal kecil sebagai hal luar biasa.

Hal itu hanya mungkin kalau orang mengikuti falsafah air yang mengalir begitu saja. Itulah Kosmas. Saat keluar frater (1995), Kosmas yang tadinya hanya punya satu maksud jadi imam diharuskan untuk berpikir. Ia pikir, apakah untuk sukses harus ke Jawa (seperti kebanyakan orang?) ataukah di Flores dia bisa berbuat sesuatu.

Ia tahu sukses tidak harus dicapai dengan beralih tempat. Ia mau tetap di Flores meski tidak tahu apa yang ia lakukan. Beruntung Mikael Jawa, kakak kelas menawarkan agar bergabung di Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah (BK3D) Ende. Tawaran itu pun diterima. Jadilah Kosmas bergabung hingga kini yang mengantarnya menangani SDM dan bisa berkeliling ke 6 kabupaten waktu itu (Ende, Ngada, Manggarai. Sumba Timur, dan Sumba Barat).

Hidup terasa air mengalir juga terungkap saat ia menjadi dosen tidak tetap di STPM Ursula Ende (1998-2001). Di tempat itu ia berkenalan dengan teman-teman dan akhirnya semua sepakat bahwa sebagai guru/dosen di lembaga swasta, setiap orang perlu saling menolong tanpa harus menunggu ditolong oleh Yayasan.

Bagi Kosmas dan teman-teman, Koperasi menjadi tumpuan karena di tengah krismon tidak ada orang yang bisa menolong selain diri sendiri bekerjasama dengan saling membantu satu sama lain. Di situlah lahir Koperasi Serviam Bakti Mandiri di mana Kosmas menjadi ketua sampai sekarang.

“Kaul Koperasi”

Lalu apa hubungan koperasi dengan pendidikan seminari tinggi (yang dipenuhi filsafat?). Rasanya aneh. Belajar tentang Plato, Aristotels, Habemans, dan siapa lagi filsuft dan akhirnya berlabuh di koperasi. Ini pekerjaan yang tidak ada logikanya.

Tetapi di tengah refleksinya ia temukan bahwa apa yang ia hidupi sewaktu menjadi frater di Ledalero itu ternyata ada kaitan dan hubungannya. Hal itu ia temukan dalam kaitan dengan kaul kebiaraan dan ‘kaul koperasi kredit.

Di biara, Kemiskinan, Kemurnian, dan Ketaatan adalah kaul yang selalu diperbaharui setiap tahun (kalu sementara). Setelah periode tertentu seseorang beralih ke Kaul Kekal).

Di Kopdit juga ada ‘kaulnya’ yaitu: pendidikan, swadaya, solidaritas. Solidaritas bisa dianalogkan sebagai kaul kemiskinan. Di sana orang harus solider dengan orang lain. Itulah koperasi perlu menjadi media agar orang saling membantu. Pendidikan pada sisi lain merupakan sebuan contoh tentang membina ketaatan diri. Dengan latar belakang pendidikan orang akan dihadapi dengan berbagai pilihan kadang sangat menggoda. Tetapi lewat pendidikan dan latihan ugah diri, seseorang bisa taat pada satu prinsip yang terus dipegang.

Sementara usaha terus menerus untuk mandiri sebenarnya merupakan sebuah ‘kemurnian’. Kemurnian tidak hanya dimengeri menjaga diri agar ‘tidak dosa’ tetapi berjuang, mandiri. Di biara sangat dilatih agar orang bisa mengalihkan perhatian ke hal-hal yang tidak baik dengan fokus pada kerja. Kerja mandiri inilah yang menjadi kunci sukses.

“Kongres Diri”

Apa yang mau di umur 55 tahun? Ibarat burung Rajawali yang mencotok paruhnya di usia matang seperti itu, Kosmas juga ingin melakukan ‘kongres’ diri. Sebuah momen untuk melihat apa yang bisa dilakukan ke depannya?

Bagi Kosmas, setiap orang yang begerak dalam koperasi dengan masa jabatan yang panjang, maka selalu ada banyak godaan. “Power tends to corrupt’ (Kekuasaan cendrung koruptif). Karena itu setiap saat Kosmas selalu sadar bahwa godaan itu ada di depan mata. Di satu pihak ia disenangi dan barangkali disanjung, tetapi di sisi lain godaan untuk memperkaya diri selalu ada.

Atas dasar itu, Komas selalu menjaga agar kepercayaan ini tidak luntur. Ia selalu berusaha untuk jujur, transparan, dan disiplin dalam keuangan sehingga tidak menjebaknya untuk memperkaya diri secara sepintas. Buah dari usaha dan refleksi serta kongres diri ini telah menghadirkan pengakuan. Penerimaan Cicin kerja 15 tahun dan bonus dari BK3D untuk kuliah S2 Manajemen, baginya merupakan sebuah penghargaan. Ia terus jaga agar kepercayaan ini tetap ada.

Kedua, dengan pengalaman mengabdi 25 tahun di koperasi terutama dengan berjalan dari desa ke desa menginspirasi untuk berkoperasi, Kosmas berpikir, apakah cara seperti itu bisa menjadi roh dan bagian dari pengabdian dalam bidang politik?

Lalu apakah pengalaman itu tidak membuatnya untuk mengadakan ‘kongres’ diri untuk beralih ke politik? Kosmas mengambil napas panjang. Ia tahu di dunia politik penuh trik untuk saling mencederai. Ia juga dengar berbagai isu miring tentang politisi yang sengaja ia tidak beri banyak perhatian selama 25 tahun di koperasi.

Tetapi yang ada dalam pikirannya, apakah dengan dedikasi di koperasi itu bisa jadi modal untuk politik? Apakah dengan ‘kaul koperasi’ dan ‘kaul kebiaraan’ yang ia punya dapat jadi modal?

Kosmas tidak menjawab. Ia malah mengatakan bahwa rakyat di Nagekeo misalnya yang harus menjawab. Ia tidak mau berprasangka atau terburu-buru menjawabnya. Ia masih punya waktu 2 tahun ke depan sambil sadar bahwa rakyat kalau mau, merekalah yang akan berkisah tentang kejujuran dan tanggungjawab yang sudah ditunjukkan putera Boawae ini.

Saya pun pamit sambil berharap, semoga Kosmas Lawa Bagho yang terus mengadakan ‘kongresi’ diri, bisa bermanfaat bagi banyak orang. Selamat ulang tahun ke 55.

=======

Robert Bala. Teman Kelas Kosmas Lawa Bagho. Penulis buku CREATIVE TEACHING, MENGAJAR MENGIKUTI KEMAUAN OTAK (Gramedia, 2018).

Komentar ANDA?